Hari ini aku janjian ketemu “Rain”.
Setelah 20 tahun aku akan melihat kembali bagaimana rupanya.
20 tahun yll Rain dan aku adalah sepasang kekasih
Kami berpisah karena aku harus pergi meninggalkan kota dimana kami saling menyayangi.
Bagiku perpisahan itu sakit dan menyedihkan.
Aku bukanlah orang yang percaya pada cinta jarak jauh. Dan kali ini pun, aku tau cinta ini akan berakhir begitu kapal yg mengangkutku menjauhi pulau ini.
Beberapa bulan setelah perpisahan tersebut aku dan Rain masih saling bertukar kabar. Kami berhubungan via surat mengabarkan keadaan masing-masing
surat2 tersebut penuh kerinduan dan ungkapan rasa ingin bertemu kembali.
sampai suatu hari yg melelahkan dan penuh tekanan surat Rain datang setelah berbulan-bulan absent.
isi surat tersebut tidaklah panjang
tapi dibaliknya ada kode yg biasa kami tulis dalam bahasa rahasia kami sendiri
dan untuk membacanya
aku harus memecahkan kode tersebut.
Setelah bersemangat memecahkan kode untuk mengetahui apa isinya yang ku temukan hanyalah ungkapan rasa kecewa yg dimiliki Rain dan anggapan bahwa selama ini aku tidak mengerti akan perasaannya. aku juga tidak memiliki cinta yg cukup untuknya.
Entah apa yg merasukiku, saat itu aku langsung grigah mengambil pulpen dan kertas. Kutumpahkan
seluruh kemarahanku tanpa tertinggal suatu hurufpun dan
satu emosipun yg seharusnya ku tahan.
Aku tersinggung diragukan
Aku tersinggung Rain tidak sepenuhnya mempercayaiku
kalau memang hal itu yg benar dia rasakan
tip-ex saja aku dari hidupnya
dan hubungan ini kita sudahi sampai disini saja.
Demikianlah sepenggal cerita masa lalu ku dari 20 tahun yll.
Dan hari ini aku bersiap untuk bmenemui Rainain karena yah,
bagaimanapun dia pernah dekat dengan aku
dan pertemuan terakhir telah terjadi 20 tahun yll. Lebih dari itu …..;
ini adalah malam spesial untuk aku. Lama sudah sejak terkhir kali aku keluar menemui seorang pria to having a date. Bagiku ini adalah malam istimewa.
Dari jauh sudah aku liat kedatangan Rain. Tubuhnya masih tinggi seperti zaman dahulu. Dadanya lebih besar dan bidang. Lenggangnya aku tidak asing dan mengisyaratkan aku dia masih Rain yg dahulu tapi perawakan tubuhnya lebih tegap 4 kali dari zaman SMA.
Kami bertukar sapa dan pandangan. Memory yg kami miliki cukup membuat kami berdua “nyengir”
Cengiran dan pandangan yg kami miliki lebih menyuarakan seluruh kalimat yg kami belum keluarkan. In short, aku menghabiskan waktu 2,5 jam bersama Rain di Mall itu.
Pertanyaan terakhir yg aku tanyakan kepada Rain adalah :
“Kenapa kamu menjadi Christiani?”
Rain menjawab “karena saya percaya”
Dan pembahasan agama itupun selesai sebelum dimulai.
Tidak ada yg perlu saya katakan dan komentari. Rain berhak penuh akan pilihan hidup yang ia jalanin.
Dan akupun hanya mengangguk mendengar jawabannya. Rain telah 11tahun menjadi christiani dan sebagai putra Makasar sejati Rain cukup melakukan perubahan besar dalam hidupnya ditengan keluarga besarnya yang rata2 penganut Islam taat dan tak tergoyahkan.